Tim Basket Putri 3 x 3 Ubah Strategi Bagian 3

Sebelumnya, Dewa Ayu dan kawan-kawan juga mengikuti Piala 3 x 3 Asia FIBA 2018 pada April lalu di Shenzhen, Cina, di mana mereka terhenti di perempat final. Pada akhir Mei 2018, mereka menjadi peserta Turnamen Profesional Putri Internasional “Chengdu Challenger” 2018, tapi tak bisa melaju jauh setelah kalah tiga kali. Sebagai kompetisi penutup sebelum Asian Games 2018, timnas putra-putri mengikuti turnamen Nations League 3 x 3 U-23 FIBA di Utsonomiya, Jepang, pada 28–29 Juli lalu.

Timnas bola basket 3 x 3 putri sendiri ditargetkan meraih medali perunggu di Asian Games 2018. Pesaing terkuat mereka adalah tim Cina dan Jepang, yang pernah bertemu di turnamen persiapan Asian Games. “Saat itu kalah, tetapi skornya tidak jauh dan peluang menang tetap ada,” kata Wahyu.

Tim Basket Putri 3 x 3 Ubah Strategi Bagian 2

Pelatih tim nasional bola basket 3 x 3 putri Indonesia, Wahyu Widayat Jati, telah menyiapkan strategi khusus untuk timnya, lantaran salah satu pemain andalan, Jovita Elizabeth Simon, urung masuk tim. Jojo, sapaan Jovita, mengalami cedera lutut setelah menjalani pemusatan latihan dan mengikuti beberapa kompetisi di Cina dan Eropa. “Jovita memiliki teknik penguasaan bola yang lumayan. Namun, setelah dia cedera, tim tidak lagi memiliki pemain dengan kemampuan sama seperti Jojo. Jadi, harus ada perubahan strategi,” ujar Wahyu.

Tanpa Jojo, menurut Wahyu, skuadnya harus bermain dengan bola-bola cepat. Bola tidak bisa dipegang terlalu lama. Jika bola berada di tangan, Wahyu meminta para pemainnya berpikir cepat untuk menentukan tindakan selanjutnya, entah itu mengoper atau melempar ke keranjang. “Harus sesedikit mungkin pegang bola. Kalau bisa langsung berikan ke teman atau serang ke keranjang,” kata Wahyu.

Dia menam bahkan, sistem seperti itu sudah dipertajam kala skuadnya menjalani pemusatan latihan di Serbia pada Juli lalu. Dalam persiapannya, timnas putri terlibat dalam serangkaian kompetisi 3 x 3 mulai akhir Juni sampai minggu kedua Juli 2018 di Belanda, yaitu Streetball Masters Weert (di mana mereka menjadi juara), Streetball Masters Heerenveen, Streetball Masters Utrecht, dan Streetball Masters Rotterdam.

Tim Basket Putri 3 x 3 Ubah Strategi

Tim nasional bola basket 3 x 3 putri Indonesia telah menetapkan skuad yang terdiri atas empat pemain yang akan diturunkan di Asian Games XVIII 2018. Mereka terpilih setelah menjalani pemusatan latihan dan beberapa kali kompetisi. Manajer timnas 3 x 3 Indonesia, Fareza Tamrella, mengatakan keempat pemain tersebut adalah Christine Apriyani Rumambi, Dewa Ayu Made Sriartha Kusuma, Delaya Maria, dan Ni Putu Eka Liana.

“Manajemen timnas 3 x 3 memutuskan tim yang paling siap untuk Asian Games 2018 adalah tim dengan para pemain ini,” ujar Fareza Tamrella di Jakarta, Senin malam lalu. Adapun empat atlet timnas 3 x 3 putri merupakan pebola basket konvensional lima lawan lima yang berlaga di kompetisi bola basket putri nasional Srikandi Cup. Christine Apriyani bermain di klub Merah Putih Samator, Dewa Ayu dan Ni Putu Eka di Merpati Bali, serta Delaya Maria di Tenaga Baru.

Dengan komposisi seperti itu, dua pemain tertinggi di timnas putri, yakni Ni Putu Eka (bertinggi badan 185 sentimeter) dan Dewa Ayu (177 sentimeter), diplot sebagai big man yang ditopang dua small, Delaya Maria (168 sentimeter) dan Christine Apriyani (172 sentimeter).

Melihat Atap Jakarta dan Genset Jakarta

Melihat Atap Jakarta dan Genset Jakarta. Jakarta merupakan kota metropolitan yang sangat ramai sekali dan hidup 24 jam siang malam. Kantor, hotel dan restoran tentunya membutuhkan sebuah genset sebagai sumber listrik alternatif. Harga genset murah di Jakarta bisa didapatkan melalui DIstributor Jual Genset Jakarta resmi yang memberikan garansi resmi dan diskon harga sampai deal. Satu-satunya adalah Rajawali Indo yang memberikan diskon harga dan garansi resmi dengan produk yang berkualitas tentunya.

Monumen Nasional. Mungkin terasa mainstream bagi sebagian orang, namun tak ada salahnya untuk menjajaki lagi ikon Jakarta ini. Dulu, lapangan tempat Monas bertengger ini dikenal sebagai tempat berlangsungnya Pasar Gambir, namun di tahun 1945, sebuah peristiwa besar terjadi.

Lapangan digunakan Soekarno untuk menggelar rapat raksasa yang dikenal dengan nama Rapat Ikada. Nah, untuk mengenang peristiwa itu, di tahun 1961 dibangunlah sebuah tugu, yang kini dikenal dengan nama Monas. Menurut pemandu bus wisata, tinggi Monas adalah 132m. Sementara bagian lidah api (bagian teratas Monas) tingginya 17m, terbuat dari perunggu yang dilapisi emas seberat 45kg.

Menikmati Monas dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara pertama adalah dengan naik ke puncaknya. Dari situ, pengunjung dapat melihat kota Jakarta. Cara kedua adalah naik ke cawan (pelataran monas). Duduk di sini, sambil menikmati angin sore, juga cukup menyenangkan. Ketiga, mengitari bagian luar Monas. Jika berkunjung di hari Minggu, di sini disewakan sepeda tandem, yang dapat dinikmati bersama-sama.

Menyantap Kuliner di Sabang

Tamasya hari ini berakhir di Jalan Sabang. Tempat ini dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari Halte Sarinah. Sabang merupakan tempat kuliner yang terkenal di kalangan wisatawan mancanegara. Selepas magrib, tenda-tenda makanan bertebaran di sini, menawarkan aneka hidangan. Yang paling terkenal adalah nasi goreng dan nasi gila.

Bila sampai di sana sebelum gelap, jangan khawatir. Kafe-kafe dan restoran kecil dapat Anda sambangi. Kali ini, kami mampir ke Kedai Pelangi, mencicipi Mi Titi dan Es Pisang Ijo, makanan khas Makassar. Rasanya yang cukup enak mengisi kembali energi kami yang terkuras setelah bertamasya seharian ini.