Tiga Agama Schoemaker

TAHUN 1942 merupakan saat yang mencekam bagi orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia. Orang Belanda dan yang berdarah IndonesiaBelanda menjadi sasaran penangkapan bangsa Jepang yang menginvasi Indonesia. Demi keselamatan, Wolff Schoemaker menitipkan anakanaknya, Maximilliaan, 9 tahun, Nachita (8), dan Ernst Prosper (6), kepada keluarga angkat salah satu mantan istrinya, Ouw Joe Hoa Njo, di Ujung Berung, Bandung. Tapi situasi tak menjadi lebih aman di sana. Ouw Joe Hoa sempat membawa tiga anaknya ke rumahnya di Gang Tilil, kawasan Dago, Bandung, sebelum mengungsi bersama rombongan ke Losarang, Indramayu, tempat tinggal orang tua kandungnya.

Nachita masih ingat betul bagaimana jarak 100 kilometer itu mereka tempuh dengan berjalan kaki selama berhari-hari. Setiap kali bertemu dengan gerilyawan Indonesia, Nachita, yang fisiknya paling bule di antara saudarasaudaranya, menjadi anak pertama yang disembunyikan. Jika ketahuan, rombongan mengaku bahwa Nachita dan saudara-saudaranya adalah anak Wolff Schoemaker, ”Kami dilepaskan dan boleh berjalan lagi,” kata Nachita, kini 82 tahun, kepada Tempo di Den Haag, mengenang kejadian itu. Selama perjalanan itu, nama Wolff Schoemaker menyelamatkan mereka. Bukan hanya para gerilyawan memberikan jalan. Tentara Gurkha tentara bayaran Inggris asal Nepal juga menjaga mereka dalam perjalanan itu. Begitulah Wolff Schoemaker dikenal pada masanya: seorang arsitek Belanda kelahiran Banyu Biru, Semarang, rektor dan guru besar sekolah tinggi teknik pertama di Indonesia.

Hubungan baiknya dengan komunitas Belanda dan tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia itu yang menyelamatkannya, juga keluarganya, pada masa ”bersiap”. Dia tidak pernah ditangkap tentara Jepang meski tak mengungsi pada masa itu. *** WOLFF Schoemaker lahir dengan nama Charles Prosper Schoemaker di Banyu Biru, 25 Juli 1882. Dia anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Jan Prosper Schoemaker dan Josephine Charlotte Wolff, seorang Jerman. Pada usia 12 tahun, Schoemaker menempuh pendidikan menengah di Nijmegen, Belanda. Enam tahun kemudian, dia menjadi kadet di Koninklijke Militaire Academie, Breda, Belanda. Pada 1905, Schoemaker kembali ke Indonesia sebagai tentara Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) berpangkat letnan dua dengan keahlian di bidang teknik.

Website : kota-bunga.net

Interior gedung OLVEH

Bila melihat waktu pembangunan dan pemugaran OLVEH yang mencapai 95 tahun, penurunan muka tanah terjadi di Kota Tua 1 sentimeter setiap tahun. GEDUNG OLVEH yang dirancang oleh firma C.P. Schoemaker en Associatie-Architecten & Ingenieurs ini menggelitik rasa ingin tahu Pauline K.M. von Roosmalen, pakar sejarah arsitektur kolonial. Siapa arsitek utama yang membangun OLVEH? Charles Prosper (Wolff) Schoemaker atau adiknya, Richard Leonard Arnold Schoemaker? Dalam buku Tropical Modernity karya C.J. van Dullemen disebutkan memang kedua Schoemaker yang mendukung arsitektur modern ini sesungguhnya memiliki gaya yang berbeda.

Richard cenderung fungsionalis, sementara Charles kerap menggunakan ornamentasi lokal yang menonjol. OLVEH, menurut Roosmalen, memiliki detail geometrik berulang yang sederhana. Ia melihat gaya ini memiliki kemiripan dengan gaya Richard yang diaplikasikan pada pabrik minyak insulinde di Bandung. Foto peletakan batu pertama OLVEH bisa menjadi penentu siapa arsitek utama OLVEH. Dalam foto itu, sejumlah pria berbaju putih dan perempuan bertopi lebar mengangkat gelas anggur. Tertulis nama Ir R. L.A. Schoemaker sebagai pria yang berdiri paling kanan dalam foto tersebut. Informasi dari Bataviaasch Nieuwsblad koran terkenal yang terbit di Hindia Belanda pada masa itu menyatakan bahwa ”Profesor Schoemaker” merupakan perancang gedung OLVEH dengan F. Loth sebagai pelaksana pembangunannya.

Dilihat sejarahnya, pada 1922 memang Richard telah diangkat menjadi profesor di Technische Hoogeschool (kini Institut Teknologi Bandung). Sedangkan Wolff baru memperoleh gelar itu pada 1924. Namun Roosmalen tidak serta-merta menganggap Richard sebagai arsitek utamanya. ”Bisa saja jurnalis saat itu salah menulis nama Schoemaker. Bisa saja gelar profesor bukan sesuatu yang akurat,” katanya Nachita Wolff Schoemaker, putri Charles yang ditemui Tempo di Den Haag, juga menyebutkan fakta yang sama. ”Saat itu ada dua Schoemaker di bidang yang sama. Orang sering tertukar dan salah, hingga akhirnya ayah saya memasukkan nama Jerman dari keluarga ibunya, Wolff,” katanya. Sebuah dokumen dari Aegon NV di Den Haag memberikan sedikit informasi tambahan.

Gula dan Maknanya bagi Ekonomi Indonesia

Gula sudah lama menjadi perhatian pemerintah. Ukuran besarnya perhatian pemerintah terhadap gula tersebut dapat kita ama ti, antara lain mulai dari ditetapkannya gula sebagai barang dalam pengawasan atau lahirnya Inpres No. 9 Tahun 1975 tentang Tebu Rakyat Intensifikasi. Selanjutnya, pemerintah membentuk Dewan Gula Indonesia (yang sekarang ini sudah dibubarkan) untuk mengkoordinasikan beragam kebijakan; menugaskan Bulog sebagai lembaga yang menangani distribusi gula yang kemudian tugas ini dihilangkan atas desakan IMF sebagai bagian dalam paket res trukturisasi ekonomi akibat krisis ekonomi pada 1997. Pemerintah juga memiliki BUMN yang bertugas memproduksi gula seperti PTPN II, PTPN VII, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XIV dan RNI.

Baca Juga : kota-bunga.net

Bahkan menanam tebu pun sudah menjadi bagian dalam ritual budaya kita, khususnya masyarakat Sunda, Jawa dan Bali. Pertanyaannya, mengapa dengan perhatian sedemi kian besar itu produksi gula yang ditargetkan un tuk paling tidak memenuhi kebutuhan kita sendiri (swasembada gula) belum dapat kita capai? Tidak mudah menjawab pertanyaan tersebut. Ber dasarkan ukuran dampak ganda (multiplier effects) dari hasil analisis model Input-Output yang dibangun BPS, gula tergolong kelompok sektor unggulan dalam arti total dampak ganda di atas rata-rata nasional.

Posisi dalam sektor unggulan ini, gula berurutan dengan sektor minyak dan lemak dan di atas posisi sektor industri pupuk atau sek tor industri padi. Artinya, sektor industri gula ini menempati posisi strategis dalam perekonomian nasional. Sektor industri gula memberikan dampak rambatan ke depan (foreward linkages) 1,32 dan dampak ke belakang (backward linkages) 2,12 dengan total dampak ganda (multiplier effects) bernilai 3,44. Total nilai dampak ganda gula ini lebih besar da ri total nilai dampak ganda industri pupuk dan pes tisida, yaitu 3,42. Arti sederhananya, peningkat an satu unit perubahan dalam industri gula akan menyebabkan perubahan total sebesar 3,44 unit. Suatu gambaran dampak perubahan yang besar.

Dinikmati Petani Negara Lain

Walaupun dampak ekonomi sektor pergulaan ini besar, kita mendapatkan gambaran ekonomi pergulaan nasional lebih banyak diisi gula impor. Apa dampaknya terhadap perkembangan usahatani tebu sebagai landasan industri gula dalam negeri? Andaikan impor setara dengan 3 juta ton gula untuk mengisi kekurangan permintaan dalam negeri, apa dampaknya berdasarkan perkiraan model Input-Output 2010 BPS? Tambahan permintaan gula 3 juta ton berdampak langsung pada peningkatan output produksi gula dalam negeri senilai Rp42,9 triliun (49,03%), dan berdampak tidak langsung pada produksi tebu Rp18,54 triliun (21,14%). Secara total dampak terhadap output ekonomi nasional sebesar Rp87,69 triliun. Selanjutnya tambahan permintaan gula 3 juta ton ter sebut berdampak terhadap peningkatan pendapatan usahatani tebu sebesar Rp12,8 triliun (33.97%) dan industri gula Rp11,52 triliun (30,51%). Total peningkatan pendapatan seluruh sektor ekonomi yang terkena dampaknya mencapai Rp37,76 triliun.

Peningkatan permintaan gula 3 juta ton tersebut ber dampak sangat besar terhadap lapangan kerja, yaitu pada sektor usahatani tebu sebanyak 2,26 juta orang (73,03%) dan sektor industri gula sebanyak 453 ribu orang (14,64%). Total peningkatan kesempatan kerja termasuk di sektor perdagangan, industri tepung, kelapa, dan sektor lainnya yang terkait dengan gula mencapai 3,09 juta orang. Namun dampak peningkatan permintaan gula 3 juta ton itu terhadap peningkatan output, pendapatan dan kesempatan kerja nasional tidak sepenuhnya dinikmati petani tebu Indonesia karena 3 juta ton setara gula tersebut berasal dari impor. Negara kehilangan sebagian besar kesempatan ekonomi peningkatan penyediaan gula dari impor. Kesempatan ekonomi berupa pendapatan dan kesempatan kerja justru dinikmati penduduk atau petani di negara lain seperti Thailand, Brasil, dan Australia tempat asal gula impor tersebut.

Andaikan gula 3 juta ton itu berasal dari produksi tebu dalam negeri sungguh besar kesempatan ekono minya. Paling tidak negara mampu meningkatkan pendapatan petani tebunya sebesar Rp12,8 triliun dan memberikan lapangan kerja petani tebu sebanyak 2,26 juta orang. Impor gula melonjak sejak 1995 hingga sekarang. Impor gula ini menggunakan terminologi: raw sugar(gula mentah), gula rafinasi (refined sugar) atau gula kristal putih (plantation white sugar). Apa pun namanya, pada akhirnya dikonsumsi manusia baik dalam bentuk gula yang dimasukkan ke dalam secangkir teh atau kopi maupun pemanis dalam makanan dan minuman.

Masih Perlu Dipacu

Selain melihat gula sebagai komoditas ekonomi, ki ta perlu melihat gula dari sudut pandang kese hat an masyarakat.WHO (2015) merekomendasi kan, tingkat konsumsi gula adalah 25 g/kapita/ hari, sedikit di bawah rekomendasi Pola Pangan Ha rap an Nasional (LIPI, 2007) yaitu 30 g/kapita/ hari. Sedangkan rekomendasi Kementerian Kese hatan lebih tinggi, 50 g/kapita/hari. WHO (2015) menyodorkan data konsumsi gula rata-rata dunia 62 g/kapita/ hari, sedangkan Tabel Input-Output BPS 2010 menunjukkan konsumsi gula rata-rata penduduk Indonesia adalah 55 g/kapita/hari.

Jadi, tingkat konsumsi gula per kapita/hari penduduk Indonesia sudah jauh di atas rekomendasi WHO dan Rekomendasi Pola Pangan Nasional. Dengan tingkat konsumsi 55 g/kapita/hari dan jumlah penduduk 250 juta jiwa, maka jumlah gula yang dikonsumsi per tahun oleh Indonesia mencapai 5 juta ton lebih. Tingkat konsumsi gula sekitar ini setara tingkat konsumsi gula di Amerika Serikat. Namun, apabila kita gunakan standar WHO atau Pola Pangan Harapan kita, maka demi meningkatkan kesehatan masyarakat kita, total produksi sekitar 3 juta ton saja sudah mencukupi kebutuhan untuk hidup sehat. Berdasarkan data Tabel Input-Output Indonesia 1995 dan 2010, kita menyaksikan penggunaan gula per unit output industri makanan dan minuman me nurun sebesar 50%. Selanjutnya, peningkatan output industri makanan dan minuman mencapai 900%, padahal peningkatan penggunaan gula dalam industri makanan dan minuman secara absolut hanya meningkat sebesar 2,74%. Apakah industri makanan dan minuman mensubstitusi gula dengan pemanis buatan seperti siklamat atau sakarin? Pertanyaan yang menarik untuk diteliti lebih jauh. “Kita impor gula karena harganya lebih murah”.

Pernyataan tersebut benar apabila dipandang me nurut sudut finansial semata. Dari kacamata eko nomi, perlu ditelusuri lebih lanjut, khususnya peran subsidi dan proteksi terhadap petani tebu atau gula bit di negara-negara lain. Walaupun begitu, memang benar kita harus mening katkan daya saing produk gula hasil produksi dalam negeri. Mana yang kita dahulukan, gula sebagai sektor ekonomi unggulan atau pemenuhan konsumsi masyarakat yang jauh melebihi tingkat konsumsi yang menyehatkan masyarakat? Dengan mempertimbangkan dampak industri gula terhadap per ekonomian, pendapatan dan lapangan pekerjaan di satu pihak dan dampak kelebihan konsumsi gu la terhadap kesehatan, maka impor gula semes ti nya dibatasi dan disesuaikan dengan target pening katan indeks kualitas hidup manusia Indonesia (Human Development Index). Dengan perkataan lain, pembangunan industri gula di dalam negeri perlu dipacu dan dikembangkan. Mungkin makna sektor andalan atau unggulan dari industri pergulaan sesuai dengan ukuran di atas belum menjadi kesadaran yang menggugah dan sungguh-sungguh menjadi amal-perbuatan yang amanah di bidang ini. Inilah yang menyebabkan kita belum bisa swasembada gula.

Upaya Maksimalkan Rendemen

Dedy Panca Setyawan, Senior Manager PT Altrak 1987 yang juga seorang pemerhati industri gula mengatakan, industri gula di Indonesia masih menarik bagi para investor. “Tebu di Indonesia tetap menjadi sektor menarik karena kita baru bisa produksi 2,5 juta ton sementara kebutuhan 4,5 juta ton,” katanya sewaktu ditemui AGRINA di Jakarta (26/7). Industri gula, lanjut Dedy, merupakan salah satu industri yang masih menjanjikan keuntungan investasi hingga 15%. Namun di sisi lain, menurut pengamatan Bambang Setiarso, saat ini tenaga kerja di lahan tebu makin langka dan makin mahal, jadi mau tidak mau dan suka tidak suka harus masuk ke me kani sasi. “Mekanisasi itu sebetulnya efisien. Buktinya PG Gunungmadu di Lampung (biaya produksi) bisa sampai jadi gula enggak sampai Rp5.000- an/kg. Kalau di Jawa, biaya produksi Rp8.000/kg. Gimana mau bersaing?,” sergah Direktur PT Marga ta ma Bangun Karsa, konsultan perkebunan tebu di Surabaya, Jatim.

Mekanisasi di Lahan

Proses pengolahan lahan dengan mekanisasi, me nurut Bambang, melalui urutan pekerjaan, yaitu bajak I, bajak II, kemudian harrow/garu. “Kalau tanamnya mau manual pakai Ridger/Kaer. Bikin lubang untuk tanam bibit sekaligus diberi pupuk pertama. Setelah tanam disemprot herbisida su paya selama 1,5 bulan tidak ada gulma,” jelas alumnus Jurusan Mekanisasi, Fakultas Teknologi Pertanian UGM ini. Setelah tebu berumur 1,5 bulan, lanjut dia, tanah digemburkan dengan kultivator 100 HP. Seminggu setelah penggemburan, kemudian diberi pupuk kedua. Untuk pupuk kedua, digunakan alat aplikator pupuk.

Selanjutnya bisa gunakan subsoiler dan push emergent untuk penyemprotan terakhir. “Kalau untuk ratoon (ratun), tebu ditebang kemudian dikepras lalu digemburkan. Keprasnya pakai Stubble Shaver, penggemburannya pakai Terra Yyne,” jelas Bambang yang pernah berkiprah di sa lah satu PTPN tebu itu. Biaya mekanisasi untuk pengolahan tanah sampai tebu berumur tiga bulan kurang lebih sekitar Rp8 juta. Usman A. Rasjid, petani tebu asal Malang, menyebutkan saat ini petani tebu di daerah Malang baru menggunakan mekanisasi untuk membajak, belum ke perlakuan lainnya. “Kami di Malang memang lebih memikirkan soal kemitraan dengan petani penggarap disamping mekanisasi yang terganjal soal penguasaan lahan yang belum di-grouping (dikelompokkan),” kata Usman.

Panen dengan Mesin

Dedy mempertegas mekanisasi total pada saat panen dapat mengurangi kehilangan hasil (losses). “Karena mengurangi losses, makanya rendemen bi sa naik,” katanya. Pemanenan tebu ada yang masih manual, semi mekanisasi dan mekanisasi penuh. Ia melanjutkan, perbedaan metode pemanenan sangat berpengaruh pada rendemen. Di Indone sia mekanisasi penuh dikenal juga dengan Tebang Muat Angkut (TMA). Tebu yang sudah dipotong harus segera diangkut agar tidak banyak menetes niranya. Pada proses pemotongan manual, terkadang pemanen bekerja asal-asalan sehingga kehilangan hasil tinggi. “Yang di bawah tebunya tertinggal banyak kalau potong asal. Padahal kandungan (gula) paling banyak ya ada di bawah situ.

Kalau pakai mesin pemanen, ada yang mengikuti kontur tanah jadi dipa pas sampai tanahnya tapi ratun tetap ada,” terang Dedy. Pemanfaatan mesin panen tebu, seperti alsintan lain, perlu mempertimbangkan dimensi sosial, khu susnya tenaga kerja. Di Malang, menurut Agung Rino, salah satu petani tebu masih manual menggunakan tenaga orang karena itu bentuk ke mitraan yang masih kuat. Untuk tebang ratarata ongkosnya Rp4.500-Rp5.000 per kuintal angkut. Usman menimpali, hal ini bergantung pada ja rak kebun dan PG. “Semakin jauh jarak PG biaya angkutnya makin mahal, malah bisa-bisa diimbal (dioper angkut),” jelasnya. Selain teknik pemanenan, manajemen penyimpanan juga penting untuk diperhatikan. Tebu yang terlalu lama menumpuk dan tidak segera digiling dipastikan banyak kehilangan nira. Yang paling bagus setelah TMA masuk pabrik, langsung digiling. “Tebu segar itu paling bagus. Apalagi kalau tebunya dipotong pendek-pendek, kalau disimpan terlalu lama ya banyak hilangnya karena sumber tetesnya banyak,” komentar Dedy. Lebih jauh Dedy menganjurkan, sebaiknya PG di Indonesia belajar dari PG di India. Selain memproduksi gula, produk sampingan PG dapat diolah lebih lanjut menjadi sumber energi. Hasil sampingan ini tentunya mendatangkan pendapatan tambahan bagi pelaku industri.

Masih ada Kendala

Di Kabupaten Malang, Jatim, tebu merupakan penopang utama sektor perkebunan. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang, Tomi Herawanto menjelaskan, selain luasan lahan yang besar, kunci utama tebu tetap menjadi komoditas utama adalah kondisi agroklimat di dataran tinggi yang menguntungkan. “Agroklimat inilah yang membuat produksi tebu tinggi secara kuantitas dan kualitas,” terangnya. Keberadaan dua PG dengan kapasitas relatif be sar di Malang, sambung dia, juga menguntungkan bagi para petani. Dari segi on farm ada sinergi pem ba gian area di kedua PG dan dari segi produksi, ke duanya relatif bagus. “Pabrik terus memperbaiki ki nerjanya. Terbukti tahun lalu Kebon Agung menjadi pabrik dengan rendemen tertinggi nasional, sedangkan Krebet menjadi yang ketiga terbaik,” ungkap To mi ikut bangga.

Sistem kerja dengan PG Kebon Agung, jelas Dodik Y., pe ta ni tebu di Ma lang, dalam kurun waktu dua-tiga tahun ke de pan sejum lah lahan peta ni akan dike lompok kan (regroup). Selain memudahkan koordinasi, hal ini juga diharapkan melancarkan upaya intensifikasi seperti pe ningkatan mekanisasi. Memang, tidak semua petani bersedia lahannya diperlakukan seperti itu. Agung berpendapat, insentif terbaik bagi petani tebu adalah harga gula. “Asalkan HPP (Harga Pembelian Pemerintah) tinggi, subsidi dikurangi pun saya kira semua petani masih akan bersemangat menanam tebu,” tegasnya. Sebaliknya, kebijakan impor gula dinilai sangat mempengaruhi animo petani bertanam tebu. Dalam pikiran petani, kalau ada impor besar-besaran berarti tata niaga tidak diurus karena tidak ada jaminan harga yang bagus untuk petani. Terkait harga, Agung mengungkap, tahun lalu bisa mencapai Rp10.800/kg dengan rendemen sekitar 6,3%. Sementara Usman memperkirakan rendemen tahun ini tidak lebih tinggi dibanding tahun lalu karena faktor cuaca yang buruk.