Gula dan Maknanya bagi Ekonomi Indonesia

Gula sudah lama menjadi perhatian pemerintah. Ukuran besarnya perhatian pemerintah terhadap gula tersebut dapat kita ama ti, antara lain mulai dari ditetapkannya gula sebagai barang dalam pengawasan atau lahirnya Inpres No. 9 Tahun 1975 tentang Tebu Rakyat Intensifikasi. Selanjutnya, pemerintah membentuk Dewan Gula Indonesia (yang sekarang ini sudah dibubarkan) untuk mengkoordinasikan beragam kebijakan; menugaskan Bulog sebagai lembaga yang menangani distribusi gula yang kemudian tugas ini dihilangkan atas desakan IMF sebagai bagian dalam paket res trukturisasi ekonomi akibat krisis ekonomi pada 1997. Pemerintah juga memiliki BUMN yang bertugas memproduksi gula seperti PTPN II, PTPN VII, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XIV dan RNI.

Baca Juga : kota-bunga.net

Bahkan menanam tebu pun sudah menjadi bagian dalam ritual budaya kita, khususnya masyarakat Sunda, Jawa dan Bali. Pertanyaannya, mengapa dengan perhatian sedemi kian besar itu produksi gula yang ditargetkan un tuk paling tidak memenuhi kebutuhan kita sendiri (swasembada gula) belum dapat kita capai? Tidak mudah menjawab pertanyaan tersebut. Ber dasarkan ukuran dampak ganda (multiplier effects) dari hasil analisis model Input-Output yang dibangun BPS, gula tergolong kelompok sektor unggulan dalam arti total dampak ganda di atas rata-rata nasional.

Posisi dalam sektor unggulan ini, gula berurutan dengan sektor minyak dan lemak dan di atas posisi sektor industri pupuk atau sek tor industri padi. Artinya, sektor industri gula ini menempati posisi strategis dalam perekonomian nasional. Sektor industri gula memberikan dampak rambatan ke depan (foreward linkages) 1,32 dan dampak ke belakang (backward linkages) 2,12 dengan total dampak ganda (multiplier effects) bernilai 3,44. Total nilai dampak ganda gula ini lebih besar da ri total nilai dampak ganda industri pupuk dan pes tisida, yaitu 3,42. Arti sederhananya, peningkat an satu unit perubahan dalam industri gula akan menyebabkan perubahan total sebesar 3,44 unit. Suatu gambaran dampak perubahan yang besar.

Dinikmati Petani Negara Lain

Walaupun dampak ekonomi sektor pergulaan ini besar, kita mendapatkan gambaran ekonomi pergulaan nasional lebih banyak diisi gula impor. Apa dampaknya terhadap perkembangan usahatani tebu sebagai landasan industri gula dalam negeri? Andaikan impor setara dengan 3 juta ton gula untuk mengisi kekurangan permintaan dalam negeri, apa dampaknya berdasarkan perkiraan model Input-Output 2010 BPS? Tambahan permintaan gula 3 juta ton berdampak langsung pada peningkatan output produksi gula dalam negeri senilai Rp42,9 triliun (49,03%), dan berdampak tidak langsung pada produksi tebu Rp18,54 triliun (21,14%). Secara total dampak terhadap output ekonomi nasional sebesar Rp87,69 triliun. Selanjutnya tambahan permintaan gula 3 juta ton ter sebut berdampak terhadap peningkatan pendapatan usahatani tebu sebesar Rp12,8 triliun (33.97%) dan industri gula Rp11,52 triliun (30,51%). Total peningkatan pendapatan seluruh sektor ekonomi yang terkena dampaknya mencapai Rp37,76 triliun.

Peningkatan permintaan gula 3 juta ton tersebut ber dampak sangat besar terhadap lapangan kerja, yaitu pada sektor usahatani tebu sebanyak 2,26 juta orang (73,03%) dan sektor industri gula sebanyak 453 ribu orang (14,64%). Total peningkatan kesempatan kerja termasuk di sektor perdagangan, industri tepung, kelapa, dan sektor lainnya yang terkait dengan gula mencapai 3,09 juta orang. Namun dampak peningkatan permintaan gula 3 juta ton itu terhadap peningkatan output, pendapatan dan kesempatan kerja nasional tidak sepenuhnya dinikmati petani tebu Indonesia karena 3 juta ton setara gula tersebut berasal dari impor. Negara kehilangan sebagian besar kesempatan ekonomi peningkatan penyediaan gula dari impor. Kesempatan ekonomi berupa pendapatan dan kesempatan kerja justru dinikmati penduduk atau petani di negara lain seperti Thailand, Brasil, dan Australia tempat asal gula impor tersebut.

Andaikan gula 3 juta ton itu berasal dari produksi tebu dalam negeri sungguh besar kesempatan ekono minya. Paling tidak negara mampu meningkatkan pendapatan petani tebunya sebesar Rp12,8 triliun dan memberikan lapangan kerja petani tebu sebanyak 2,26 juta orang. Impor gula melonjak sejak 1995 hingga sekarang. Impor gula ini menggunakan terminologi: raw sugar(gula mentah), gula rafinasi (refined sugar) atau gula kristal putih (plantation white sugar). Apa pun namanya, pada akhirnya dikonsumsi manusia baik dalam bentuk gula yang dimasukkan ke dalam secangkir teh atau kopi maupun pemanis dalam makanan dan minuman.

Masih Perlu Dipacu

Selain melihat gula sebagai komoditas ekonomi, ki ta perlu melihat gula dari sudut pandang kese hat an masyarakat.WHO (2015) merekomendasi kan, tingkat konsumsi gula adalah 25 g/kapita/ hari, sedikit di bawah rekomendasi Pola Pangan Ha rap an Nasional (LIPI, 2007) yaitu 30 g/kapita/ hari. Sedangkan rekomendasi Kementerian Kese hatan lebih tinggi, 50 g/kapita/hari. WHO (2015) menyodorkan data konsumsi gula rata-rata dunia 62 g/kapita/ hari, sedangkan Tabel Input-Output BPS 2010 menunjukkan konsumsi gula rata-rata penduduk Indonesia adalah 55 g/kapita/hari.

Jadi, tingkat konsumsi gula per kapita/hari penduduk Indonesia sudah jauh di atas rekomendasi WHO dan Rekomendasi Pola Pangan Nasional. Dengan tingkat konsumsi 55 g/kapita/hari dan jumlah penduduk 250 juta jiwa, maka jumlah gula yang dikonsumsi per tahun oleh Indonesia mencapai 5 juta ton lebih. Tingkat konsumsi gula sekitar ini setara tingkat konsumsi gula di Amerika Serikat. Namun, apabila kita gunakan standar WHO atau Pola Pangan Harapan kita, maka demi meningkatkan kesehatan masyarakat kita, total produksi sekitar 3 juta ton saja sudah mencukupi kebutuhan untuk hidup sehat. Berdasarkan data Tabel Input-Output Indonesia 1995 dan 2010, kita menyaksikan penggunaan gula per unit output industri makanan dan minuman me nurun sebesar 50%. Selanjutnya, peningkatan output industri makanan dan minuman mencapai 900%, padahal peningkatan penggunaan gula dalam industri makanan dan minuman secara absolut hanya meningkat sebesar 2,74%. Apakah industri makanan dan minuman mensubstitusi gula dengan pemanis buatan seperti siklamat atau sakarin? Pertanyaan yang menarik untuk diteliti lebih jauh. “Kita impor gula karena harganya lebih murah”.

Pernyataan tersebut benar apabila dipandang me nurut sudut finansial semata. Dari kacamata eko nomi, perlu ditelusuri lebih lanjut, khususnya peran subsidi dan proteksi terhadap petani tebu atau gula bit di negara-negara lain. Walaupun begitu, memang benar kita harus mening katkan daya saing produk gula hasil produksi dalam negeri. Mana yang kita dahulukan, gula sebagai sektor ekonomi unggulan atau pemenuhan konsumsi masyarakat yang jauh melebihi tingkat konsumsi yang menyehatkan masyarakat? Dengan mempertimbangkan dampak industri gula terhadap per ekonomian, pendapatan dan lapangan pekerjaan di satu pihak dan dampak kelebihan konsumsi gu la terhadap kesehatan, maka impor gula semes ti nya dibatasi dan disesuaikan dengan target pening katan indeks kualitas hidup manusia Indonesia (Human Development Index). Dengan perkataan lain, pembangunan industri gula di dalam negeri perlu dipacu dan dikembangkan. Mungkin makna sektor andalan atau unggulan dari industri pergulaan sesuai dengan ukuran di atas belum menjadi kesadaran yang menggugah dan sungguh-sungguh menjadi amal-perbuatan yang amanah di bidang ini. Inilah yang menyebabkan kita belum bisa swasembada gula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *