Jamur Krispi Cabai Garam ala Cafe Instagramable di Jakarta

Jamur Krispi Cabai Garam ala Cafe Instagramable di Jakarta. Bahan: 500 gr jamur tiram, potong menurut tangkai 5 siung bawang putih, cincang 10 bh cabai rawit, iris 6 lbr daun jeruk, buang tulangnya, iris halus 1 btg daun bawang, iris 1/8 sdt garam 300 ml minyak, untuk menggoreng Bahan Pencelup: 50 gr tepung terigu protein sedang 1 sdm tepung beras 2 siung bawang putih, haluskan 1 sdt garam 1/2 sdt baking powder 100 ml air es Bahan Pelapis (Aduk Rata): 200 gr tepung terigu protein sedang 1 sdm tepung maizena 1/4 sdt baking powder 1/2 sdt garam 1 sdt merica bubuk

Cara Membuat Untuk 4 porsi: 1. Cuci bersih jamur tiram. Peras airnya. 2. Masukkan ke dalam bahan pencelup. Angkatangkat. Masukkan ke dalam bahan pelapis. Angkat-angkat. 3. Goreng di dalam minyak yang sudah dipanaskan sampai kering. Tiriskan. 4. Panaskan 2 sendok makan minyak, tumis bawang putih, dan cabai rawit hingga harum. Tambahkan daun jeruk, daun bawang, dan garam. Aduk rata. Masukkan jamur. Aduk menyebar.

Hangat & Segar Bir Pletok

Tak hanya orang Barat saja yang punya bir. o minuman khas yang disebut bir pletok ini rang Betawi juga punya bir, lo. Bedanya, tak mengandung alkohol, melainkan minuman tradisional yang bisa menghangatkan tubuh Konon, pemberian nama pletok karena ketika minuman ini dituang ke botol dan dikocok, akan mengeluarkan bunyi “pletok!” dan berbusa. Hal ini disebabkan kandungan saponin yang berasal dari jahe yang membuatnya berbusa.

Cita rasa bir pletok tak ubahnya bandrek atau wedang, namun lebih kental. Bir pletok terbuat dari campuran jahe emprit, air, gula putih, cabai jawa, kapulaga, cengkih, pekak, kayumanis, secang sebagai pewarna merah alami, kayu masohi, dan biji pala. Di Setu Babakan terdapat slogan “Ada Indonesia di botol bir pletok.” Hal ini mengacu pada penggunaan rempah yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Salah satu pembuat bir pletok adalah Uu.

Sekali produksi, ia menghasilkan 2.500 liter bir pletok. Uu mengemasnya ke dalam botol ukuran 340 ml dan 630 ml. Harga per botolnya Rp 12 ribu-Rp 25 ribu. Uu menggunakan botol beling agar tak terjadi reaksi kimia, terlebih ia selalu menuang bir pletok ke botol masih dalam keadaan panas. “Kami pakai proses pasteurisasi. Botol yang sudah steril diisi bir pletok panas. Setelah itu, bir pletok direbus lagi bersama botolnya sampai mendidih.

Saat direbus, botol ditutup agar bakteri tak berkembang biak,” jelas Uu yang tak menggunakan bahan pengawet, namun bir pletoknya mampu bertahan hingga 8 bulan. Uu berjualan dibantu sejumlah reseller. Uu yang berdarah Betawi asli ini bangga karena bisa ikut melestarikan tradisi melalui bir pletok. “Kalau bukan anak Betawi sendiri, siapa lagi? Usaha ini kelak akan saya wariskan ke anak cucu,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *