Mother of Brainspotting Indonesia Bag3

Apalagi orang-orang dengan masalah psikologis di Indonesia sangat banyak, dari masalah kecemasan atau stres, juga KDRT, trauma, fobia, masalah dengan masa lalu, tidak percaya diri, pelecehan, bullying dan lain sebagainya,” papar Ine. Tak hanya orang dewasa. Karena latar belakang Ine sebagai psikolog anak, jika ada masalah psikologis pada anak, maka sebelum menggunakan BS kepada anak, biasanya Ine akan mengobservasi hubungan orangtua-anak terlebih dahulu.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

“Bila masalah anak ternyata sumbernya ada pada orangtua… Misalnya, orangtua mengeluhkan anaknya yang pemarah dan tidak bisa diatur, lalu ketika ditelusuri dan observasi ternyata masalahnya bersumber dari orangtua yang tidak sabaran dan pemarah, maka saya akan melakukan edukasi dan intervensi dulu ke orangtua. Salah satunya dengan BS.” Memang, saat ini BS banyak digunakan untuk mengatasi masalah orang dewasa.

Meski begitu, sudah ada yang mengembangkan BS untuk anak-anak dengan teknik yang lebih menyenangkan. Misalnya, dengan menggunakan boneka, lampu warna warni, dan lainnya, agar menarik. “Saya pribadi sudah pernah menggunakannya untuk mengatasi beberapa masalah emosi anak dan remaja,” aku Mama dari Mosha Aqeela Nyndita (5) dan Kaleiana Sabina Nyndia (2) ini Sedangkan untuk mendongkrak prestasi, meningkatkan kemandirian anak sebenarnya bisa saja dilakukan, karena BS juga bisa digunakan untuk meningkatkan performa.

Apalagi bila dari dalam diri anak ada keinginan untuk berubah atau ingin lebih dapat perform sehingga prosesnya dapat menjadi lebih mudah. Namun, jelas Ine, untuk anak yang diterapi BS biasanya perlu memiliki IQ minimal rata-rata, selain juga si anak sudah lebih besar, di atas 6 tahun.

Untuk anak berkebutuhan khusus, semisal yang memiliki masalah sensori-motor atau IQ-nya kurang, perlu menggunakan terapi lain terlebih dahulu, seperti: okupasi, sensori integrasi, dll. Bagaimana dengan mama hamil? Ternyata, juga bisa, lo! Menurut Ine, BS bisa digunakan pada mamil untuk membantu mamil agar siap dan mau menerima kehadiran janin, lebih percaya diri dengan kondisi hamil, serta meminimalisasi sindrom baby blues.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *