Satelit Mini Setelah Lama Bermimpi Bag3

Itulah yang membuat LAPANChibasat dapat menembus awan, kabut, asap, hutan, dan bisa melakukan penetrasi ke dalam tanah. Selain menangkap L band, sensor dapat menangkap frekuensi C band (5,3 GHz), X band (9,4 GHz), dan Ku band (13,2 GHz) sesuai dengan target yang akan diamati. Semakin tinggi frekuensi, se makin detail citra yang diperoleh. ”Ini akan menjadi satelit paling canggih yang pernah Indonesia punya,” kata Robertus Heru Triharjanto, peneliti Pusat Teknologi Satelit Lapan, anggota tim LAPAN-Chibasat. ”Misi utama satelit ini adalah pengamatan bumi.”

Aplikasi di Indonesia bisa untuk banyak hal, antara lain pengamanan lalu lintas laut dan batas negara, gunung meletus, kebakaran hutan, pemantauan nelayan ilegal, pemeliharaan infrastruktur, hingga pengamatan pergeseran tanah yang bisa mengakibatkan gempa dan tanah longsor. Nantinya, penerima dan pengolah data akan dilakukan oleh Lapan dan Chiba University.

”Namun kami belum punya kebijakan harga citra satelit karena masih menunggu satelit beroperasi dengan baik di orbit,” ujarnya. Robertus menambahkan, satelit tidak dikembangkan dengan kepentingan bisnis karena pada dasarnya untuk penguasaan teknologi Laksana Tri Handoko, Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menyebut LAPAN-Chibasat mumpuni untuk memotret seluruh permukaan Nusantara.

”Hanya, gambar yang dihasilkan seperti gambar ultrasonograf medis alias USG. Jadi perlu analisis lebih mendalam agar datanya bisa dipakai lebih lanjut,” ucap Laksana, yang tak tergabung dalam tim. Meski begitu, menurut dia, kehadiran LAPAN-Chibasat cukup membuat gebrakan karena selama ini Indonesia tertinggal dalam sektor satelit. Adapun Kepala Laboratorium Data Laut dan Pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan Widodo Setiyo Pranowo menyebut LAPAN-Chibasat sebagai senjata baru riset kelautan.

”Terlebih kalau menggunakan beberapa satelit, bisa menjangkau seluruh wilayah laut Indonesia,” ucapnya. Dalam perhitungan Josh, butuh lima satelit dengan orbit polar, yakni dari Kutub Utara ke Selatan, untuk bisa mengamati seluruh wilayah Indonesia, atau dua satelit dengan orbit ekuator. Saat berada di antariksa, LAPAN-Chibasat akan mengelilingi bumi di ketinggian sekitar 570 kilometer. Satelit mikro ini mengitari bumi dua jam sekali dan akan berada di atas wilayah Indonesia setiap empat-enam hari sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *