Upaya Maksimalkan Rendemen

Dedy Panca Setyawan, Senior Manager PT Altrak 1987 yang juga seorang pemerhati industri gula mengatakan, industri gula di Indonesia masih menarik bagi para investor. “Tebu di Indonesia tetap menjadi sektor menarik karena kita baru bisa produksi 2,5 juta ton sementara kebutuhan 4,5 juta ton,” katanya sewaktu ditemui AGRINA di Jakarta (26/7). Industri gula, lanjut Dedy, merupakan salah satu industri yang masih menjanjikan keuntungan investasi hingga 15%. Namun di sisi lain, menurut pengamatan Bambang Setiarso, saat ini tenaga kerja di lahan tebu makin langka dan makin mahal, jadi mau tidak mau dan suka tidak suka harus masuk ke me kani sasi. “Mekanisasi itu sebetulnya efisien. Buktinya PG Gunungmadu di Lampung (biaya produksi) bisa sampai jadi gula enggak sampai Rp5.000- an/kg. Kalau di Jawa, biaya produksi Rp8.000/kg. Gimana mau bersaing?,” sergah Direktur PT Marga ta ma Bangun Karsa, konsultan perkebunan tebu di Surabaya, Jatim.

Mekanisasi di Lahan

Proses pengolahan lahan dengan mekanisasi, me nurut Bambang, melalui urutan pekerjaan, yaitu bajak I, bajak II, kemudian harrow/garu. “Kalau tanamnya mau manual pakai Ridger/Kaer. Bikin lubang untuk tanam bibit sekaligus diberi pupuk pertama. Setelah tanam disemprot herbisida su paya selama 1,5 bulan tidak ada gulma,” jelas alumnus Jurusan Mekanisasi, Fakultas Teknologi Pertanian UGM ini. Setelah tebu berumur 1,5 bulan, lanjut dia, tanah digemburkan dengan kultivator 100 HP. Seminggu setelah penggemburan, kemudian diberi pupuk kedua. Untuk pupuk kedua, digunakan alat aplikator pupuk.

Selanjutnya bisa gunakan subsoiler dan push emergent untuk penyemprotan terakhir. “Kalau untuk ratoon (ratun), tebu ditebang kemudian dikepras lalu digemburkan. Keprasnya pakai Stubble Shaver, penggemburannya pakai Terra Yyne,” jelas Bambang yang pernah berkiprah di sa lah satu PTPN tebu itu. Biaya mekanisasi untuk pengolahan tanah sampai tebu berumur tiga bulan kurang lebih sekitar Rp8 juta. Usman A. Rasjid, petani tebu asal Malang, menyebutkan saat ini petani tebu di daerah Malang baru menggunakan mekanisasi untuk membajak, belum ke perlakuan lainnya. “Kami di Malang memang lebih memikirkan soal kemitraan dengan petani penggarap disamping mekanisasi yang terganjal soal penguasaan lahan yang belum di-grouping (dikelompokkan),” kata Usman.

Panen dengan Mesin

Dedy mempertegas mekanisasi total pada saat panen dapat mengurangi kehilangan hasil (losses). “Karena mengurangi losses, makanya rendemen bi sa naik,” katanya. Pemanenan tebu ada yang masih manual, semi mekanisasi dan mekanisasi penuh. Ia melanjutkan, perbedaan metode pemanenan sangat berpengaruh pada rendemen. Di Indone sia mekanisasi penuh dikenal juga dengan Tebang Muat Angkut (TMA). Tebu yang sudah dipotong harus segera diangkut agar tidak banyak menetes niranya. Pada proses pemotongan manual, terkadang pemanen bekerja asal-asalan sehingga kehilangan hasil tinggi. “Yang di bawah tebunya tertinggal banyak kalau potong asal. Padahal kandungan (gula) paling banyak ya ada di bawah situ.

Kalau pakai mesin pemanen, ada yang mengikuti kontur tanah jadi dipa pas sampai tanahnya tapi ratun tetap ada,” terang Dedy. Pemanfaatan mesin panen tebu, seperti alsintan lain, perlu mempertimbangkan dimensi sosial, khu susnya tenaga kerja. Di Malang, menurut Agung Rino, salah satu petani tebu masih manual menggunakan tenaga orang karena itu bentuk ke mitraan yang masih kuat. Untuk tebang ratarata ongkosnya Rp4.500-Rp5.000 per kuintal angkut. Usman menimpali, hal ini bergantung pada ja rak kebun dan PG. “Semakin jauh jarak PG biaya angkutnya makin mahal, malah bisa-bisa diimbal (dioper angkut),” jelasnya. Selain teknik pemanenan, manajemen penyimpanan juga penting untuk diperhatikan. Tebu yang terlalu lama menumpuk dan tidak segera digiling dipastikan banyak kehilangan nira. Yang paling bagus setelah TMA masuk pabrik, langsung digiling. “Tebu segar itu paling bagus. Apalagi kalau tebunya dipotong pendek-pendek, kalau disimpan terlalu lama ya banyak hilangnya karena sumber tetesnya banyak,” komentar Dedy. Lebih jauh Dedy menganjurkan, sebaiknya PG di Indonesia belajar dari PG di India. Selain memproduksi gula, produk sampingan PG dapat diolah lebih lanjut menjadi sumber energi. Hasil sampingan ini tentunya mendatangkan pendapatan tambahan bagi pelaku industri.

Masih ada Kendala

Di Kabupaten Malang, Jatim, tebu merupakan penopang utama sektor perkebunan. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang, Tomi Herawanto menjelaskan, selain luasan lahan yang besar, kunci utama tebu tetap menjadi komoditas utama adalah kondisi agroklimat di dataran tinggi yang menguntungkan. “Agroklimat inilah yang membuat produksi tebu tinggi secara kuantitas dan kualitas,” terangnya. Keberadaan dua PG dengan kapasitas relatif be sar di Malang, sambung dia, juga menguntungkan bagi para petani. Dari segi on farm ada sinergi pem ba gian area di kedua PG dan dari segi produksi, ke duanya relatif bagus. “Pabrik terus memperbaiki ki nerjanya. Terbukti tahun lalu Kebon Agung menjadi pabrik dengan rendemen tertinggi nasional, sedangkan Krebet menjadi yang ketiga terbaik,” ungkap To mi ikut bangga.

Sistem kerja dengan PG Kebon Agung, jelas Dodik Y., pe ta ni tebu di Ma lang, dalam kurun waktu dua-tiga tahun ke de pan sejum lah lahan peta ni akan dike lompok kan (regroup). Selain memudahkan koordinasi, hal ini juga diharapkan melancarkan upaya intensifikasi seperti pe ningkatan mekanisasi. Memang, tidak semua petani bersedia lahannya diperlakukan seperti itu. Agung berpendapat, insentif terbaik bagi petani tebu adalah harga gula. “Asalkan HPP (Harga Pembelian Pemerintah) tinggi, subsidi dikurangi pun saya kira semua petani masih akan bersemangat menanam tebu,” tegasnya. Sebaliknya, kebijakan impor gula dinilai sangat mempengaruhi animo petani bertanam tebu. Dalam pikiran petani, kalau ada impor besar-besaran berarti tata niaga tidak diurus karena tidak ada jaminan harga yang bagus untuk petani. Terkait harga, Agung mengungkap, tahun lalu bisa mencapai Rp10.800/kg dengan rendemen sekitar 6,3%. Sementara Usman memperkirakan rendemen tahun ini tidak lebih tinggi dibanding tahun lalu karena faktor cuaca yang buruk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *